Pesantren Salafiyah dan Responnya di Era Globalisasi

Authors

  • Hasbi Indra Universitas Ibn Khaldun Bogor

DOI:

https://doi.org/10.32832/tadibuna.v6i2.1081

Abstract

Penelitian ini bersifat kualitatif yang bersumber pada pemikiran para ahli melalui buku, jurnal dan lainnya melalui pendekatan normatif, filosofis dan sosiologis. Penelitian ini hendak menggambarkan bagaimana pesantren yang memiliki santri 1.800.00 lebih menyiapkan diri di era globalisasi yang penuh dinamika dan tantangan. Pesantren salafiyah lahir di era Walisongo di masa penjajahan Belnda. Lembaga ini didirikan oleh masyarakat yang saat ini sudah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Dari jumlah santri 29.000 dari jenis kombinasi, modern dan salafiyah, jumlah 18.232 pesantren salafiyah dengan santri 1.8 juta lebih dari 3.800.000 lebih. Di pesantren ini santri hanya belajar ilmu agama melalui kitab-kitab ulama klasik (kitab kuning) tidak mempelajari sains seperti MIFA. Pesantren ini sedang menghadapi fenomena globalisasi. Globalisasi ditandai oleh hubungan manusia yang tidak terbatas, melalui faksimil,, manusia mendapat informasi dari tempat yang sangat jauh baik informasi yang menyedihkan seperti perang tentara amerika dengan tentara Irak serta tentara ISIS yang membumihanguskan peninggalan bersejrah masa keemasan Islam. Majunya teknologi di era globalisasi menjadi tantangan pendidikan pesantren. Produks pesantren salafiyah harus menyiapkan dirinya dengan ilmu agama, non agama dan skill dan sudah mengenal alat-alat teknologi pembelajaran di pendidikannya, dengan demikian santrinya siap berkompetsi di era globalisasi ini, untuk itu lembaga ini harus dikelola secara profesional.

Kata kunci: Pesantren Salafiyah, Globalisasi, IPTEK

References

Abdullah, T. (Ed.). (1983). Agama dan Peradaban Sosial. Jakarta: Rajawali Pers.

Ahmad, A. S., & Donnan, H. (1994). Islam Globalization and Postmodernity. London: Routledge.

Azra, A. (1998). Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos.

Depag, T. (2000). Pola Pengembangan Madrasah Diniyah & Pesantren. Depag, Jakarta.

Dhofier, Z. (1994). Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES.

Dinamika Pesantren di Indonesia. (2003). Jakarta: Ditjen Bagais.

Faqih, M. (2003). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Insist Press.

Faqih, M. (2006). Jalan Lain. Yogyakarta: Insist Press.

Fatah, R. A., Taufik, M. T., & Bisri, A. M. (2005). Rekontruksi Pesantren Masa Depan. Jakarta: PT. Listafariska Putra.

Furchan, A. (2004). Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Gama Media.

Hamdy, R. (2004). Meningkatkan Mutu Pendidikan MIPA di Pondok Pesantren. Makalah, disampaikan ke Ditjen Bagais.

Ibrahim, M. D. (1995). Teknologi, Emansipasi dan Transendensi. Bandung: Mizan.

Indra, H. (2002). Pesantren dan Masyarakat. Ikhlas, Majalah Depag, 23.

Indra, H. (2009a). Pendidikan Diniyah dan Globalisasi. Sosio-Religia, 8.

Indra, H. (2009b). Pesantren dan Peradaban Islam. Jabal Hikmah, STAIN Jayapura, 2.

Indra, H. (2016). Pendidikan Islam, Tantangan dan Peluang di Era Globalisasi. Yogyakarta: Deepublish.

Mas’ud, A. (1999). Pendidikan Islam dalam Era Reformasi dan Globalisasi. Religia, 2.

Moleong, L. J. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

Mulkan, A. M. (2001). Humanisasi Pendidikan Islam. Afkar, 11.

Nata, A. (1999). Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajagrafindo.

Pendis, D. (2014). Statistik Pendidikan Islam 2012-2013. Jakarta.

Saputra, A. (2011). “Petunjuk Al-quran Dalam Memilih Pemimpin”, diakses tanggal 13 Oktober.

Soejoeti, Z. (2002). Islamic Education,-- Academic orientation for the Degree of Doctor Honoris Causa di IAIN Syarif Hidayatullah. Jakarta, Jakarta: IAIN.

Sulthon, M. (2004). Management Pondok Pesantren. Yogyakarta: Lista Putra.

Downloads

Published

2018-04-14

How to Cite

Indra, H. (2018). Pesantren Salafiyah dan Responnya di Era Globalisasi. Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 136–150. https://doi.org/10.32832/tadibuna.v6i2.1081

Issue

Section

Artikel