FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN TB PARU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SITU UDIK KABUPATEN BOGOR TAHUN 2020

Authors

  • Aliyah Kusumawardani Universitas Ibn Khaldun

DOI:

https://doi.org/10.32832/pro.v4i6.5984

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyebab utama kedua kematian akibat penyakit menular di seluruh dunia setelah HIV/AIDS. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit TB Paru sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru di Puskesmas Situ Udik Kabupaten Bogor. Jenis penelitian menggunakan pendekatan case control dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk yang tinggal di Puskesmas Situ Udik dengan jumlah sampel sebanyak 132 orang terdiri dari 66 kasus dan 66 kontrol dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling dan random sampling. Pengumpulan data mengunakan kuesioner dan alat bantu digital lainnya. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Situ Udik adalah kepadatan hunian (p value= 0,003), suhu (p value= 0,003), kelembaban (0,003), luas ventilasi (p value=0,003), status gizi (p value= 0,029), status merokok (0,029) sedangkan yang tidak ada hubungan dengan kejadian TB Paru yaitu umur (p value= 0,069) dan jenis kelamin (0,069). Regresi logistik luas ventilasi (0,001).

References

Achmadi. (2005). Teori Penelitian Tuberculosis. Jakarta: Rineka Cipta.

Aditama. (2006). Pedoman Nasional Penanggulanggan Tuberkulosis. Jakarta:Depkes RI.

Alfah. (2015). Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Siloam Kecamatan Tamako Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sulawesi Utara: Rineka Cipta.

Ayomi, A. C., Setiani, O., & Joko, T. (2012). Faktor Risiko Lingkungan Fisik Rumah dan Karakteristik Wilayah Sebagai Determinan Kejadian Penyakit Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua. Papua: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

A Nasution, A Maulana, D Kurniawan. (2019). BERSAMA MEMAJUKAN DESA. Abdi Dosen: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat 3 (2), 99-104

Asri Masitha Arsyati, Vindi Krisna Chandra, 2020. Assement Kesiapan Kader Posyandu dalam Pelatihan Penggunaan Media Online. HEARTY Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol.8 No.1, 2020 Agustus-February, hlm. 27-32 ISSN. 2338-7475 E-ISSN. 2620-7869

Butiop, HML., Kandau, GD., & Palandeng, HMF. (2015). Hubungan Kontak Serumah, Luas Ventilasi, dan Suhu Ruangan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Desa Wori. Jakarta: Kedokteran Komunitas dan Trop. III (November 2015).

Damayanti et.al (2018). Risiko Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Liukang Tupabbring Kabupaten Pankep. Jurnal Hgiene, Volume Nomor 2 Mei-Agustus 2018.

Darwel. (2012). Faktor-Faktor Yang Berkolerasi Terhadap Hubungan Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Di Sumatera (Analisis Data Riskesdas 2010). Jakarta: Riskesdas.

David et.al (2019). Analisis Spasial dan Faktor Risiko Tuberkulosis Paru di Kecamatan Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatera Utara. Sumatera Utara: Journal of Community Medicine and Public Health.

Departemen Kesehatan RI. (2007). Pedoman Nasional Penanggulangan TBC, Edisi 2, Cetakan pertama. http://www.tbindonesia.or.id/pdf/BPN 2007.pdf. Januari 2013 Jakarta: Depkes RI.

Departemen Kesehatan RI. (2008). Pedoman Nasional Penanggulangan TBC, Edisi 2, Cetakan ke-2, Jakarta: Depkes RI.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman Nasional PenanggulanganTuberkulosis.

Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2014. http://www.tbindonesia.or.id/opendir/Buku/bpn_p-tb_2014.pdf. Jakarta: Depkes RI.

Dinkes Kabupaten Bogor. (2018). Profil Kesehatan Kabupaten Bogor. Cibinong: Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.

Enarson. (2003). Diagnosis dan Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Fitrianingtyas, Pertiwi, dan Rachmania, W. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kurang Energi Kronis (KEK) pada Ibu Hamil di Puskesmas Warung Jambu Kota Bogor. HEARTY Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2018;6(2):1-8.

Fatimah. (2008). Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah Yang Berhubungan Dengan Kejadian TB Paru Di Kabupaten Cilacap (Kecamatan: Sidareja, Patimuan, Gandrungmangu, Bantasari tahun 2008). Cilacap: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Gordon. (1950). Teori Penelitian Tuberculosis. Jakarta: Rineka Cipta.

Hastono. (2007). Modul Analisis Data. Jakarta: Kesmas UI.

Herdin (2005). Ilmu Penyakit dalam Cetakan ke – 2. Jakarta: PT. Adi Mahasatya.

Irwan. (2017). Epidemiologi Penyakit Menular John Gordon 1950. Yogyakarta: CV Absolute Media.

Kemenkes RI. (2018). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes RI. (2018). Pusat Data danInformasi Tuberkulosis. Info Datin. http.://doi.org/244-7659. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes RI. (2018). Profil Kesehatan Indonesia Provinsi Jawa Barat.Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 829. (1999). Tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan. Jakarta: Menteri Kesehatan RI.

Kolappan, C., & Gopi, P. G. (2002). Tobacco Smoking and Pulmonary Tuberculosis.Tuberculosis Research Centre. India. India: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Kurniasari, R. S., Suhartono, & Cahyo, K.. ( 2012). Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru di Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri. Jawa Tengah: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Niko Riandra. (2011). Faktor-Faktor yang Hubungan Perilaku Dan Kondisi Sanitasi Rumah Dengan Kejadian TB Paru di Kota Solok Tahun 2011. Sumatra Barat: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Novianty (2005). Ems Erlangga Medical Series At a GLANCE MEDICINE Patrick Davey mencakup 64 Manifestasi Klinis (gejala, diagnosis banding, diagnosis) & 146 Penyakit Medis (Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan, Prognosis). Jakarta: Erlangga.

Oktaviani et.al (2016). Analisis Risiko Kejadian TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Kertapati Palembang. Sumatera Selatan: Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No 1077/Menkes/Per/V/(2011). Pedoman Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah. Jakarta: Kemenkes RI.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 565. (2011). Tentang Strategi Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Kemenkes RI.

Perdana P. (2008). Faktor-faktor yang berhubungan dengan Kepatuhan Berobat Penderita TB Paru selama Pengobatan di Puskesmas Kecamatan Ciracas Jakarta Timur. Jakarta: UI

Puskesmas Situ Udik . (2018 & 2019). Data Tuberkulosis Paru. Kabupaten Bogor: Situ Udik.

Pertiwi, F. D., Hariansyah, M., & Prasetya, E. P. (2019). FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DIKELURAHAN MULYAHARJA TAHUN 2019. PROMOTOR, 2(5). https://doi.org/10.32832/pro.v2i5.2531

Rosiana, A. M. (2013). HubunganAntara Kondisi Fisik Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis Paru. Jakarta: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Rosmayudi. (2002). Diagnosis dan Pengendalian Tuberkulosis Paru. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Ruswanto. (2010). Analisis Spasial Sebaran Kasus Tuberkulosis Paru ditinjau dari Faktor Lingkungan dalam Luar Rumah di Kabupaten Perkalongan. [Tesis].Semarang: Universitas Ponegoro.

S Nurdiana, FD Pertiwi, E Dwimawati. (2021). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGALAMAN BULLYING DI SMK NEGERI 2 BOGOR PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2018. PROMOTOR 3 (6), 605-613

Sarwono. (2006). Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sejati, A,, & Sofiana, L. (2015). Faktor – Faktor Terjadinya Tuberkulosis. Jakarta: Jurnal Kesehatan Masyarakat.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sutiningsih. (2012). Hubungan Antara Karakteristik Individu, Praktik Hygiene dan Sanitasi Lingkungan dengan Kejadian Tuberculosis di Kecamatan Semarang Utara Tahun 2011. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 435-445

Wijaya. (2012). Merokok dan Tuberkulosis. Jakarta: Jurnal Tuberkulosis Indonesia.

Maqfirah. (2018). Faktor Risiko Kejadian TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Liukang Tupabbiring Kabupaten Pangkep. Makassar: UIN Alauddin.

Muhammad. (2013). Hubungan Tingkat Sirkulasi Oksigen Dan Karakteristik Individu Dengan Kejadian TB Paru Pada Kelompok Usia Produktif Di Puskesmas Pondok Picung Tahun 2013.

Notoatmodjo, S. (2007). Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.

Tanujaya. (2007). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

WHO. (2017). Global Tuberkulosis Report 2017. Jakarta: World Health Organization.

WHO. (2018). Global Tuberculosis Control: Surveillance, Planning, Financing: WHO Report 2008. In World Helath Organization. http://doi.org/ISBN 978 92 4 156354 3.

WHO. (2019). WHO | Tuberculosis Country Profiles. Retrieved April 25, 2019, From WHO. http://www.who.int/tb/country/data/p ro files/en.

Widoyono. (2008). Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya. Jakarta. Penerbit Aerlangga (Halaman 8 dan Bab 2)

Wuaten, G. (2010). Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Penyakit TB Paru. Jakarta: Rineka Cipta.

Wulandari, S. (2012) Hubungan Lingkungan Fisik Rumah dengan Kejadian Tuberkulosis Paru. Semarang Unnes : Journal of Public Health.

Yufa. (2016). Hubungan Antara Faktor Host Dan Lingkungan Kejadian TB Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang Tahun 2016. Jakarta: Rineka Cipta.

Downloads

Published

2021-12-06

Issue

Section

Artikel