PERCERAIAN DI BAWAH TANGAN DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF

Latifah Ratnawaty

Abstract


Menurut hukum Islam walaupun halal perceraian itu, namun sangat dibenci dan dimurkaiAllah, Subhanahu wa Ta?ala sehingga diharapkan manusia tidak mudah untuk melakukanperceraian. Cerai atau talak adalah salah satu perbuatan hukum berupa pemutusan hubunganperkawinan dari pihak suami terhadap pihak istri. Hokum Perkawinan Indonesia memberikansah-nya perceraian itu, jika perceraian dilakukan di depan pengadilan. Sementara dalam HukumIslam, sah-nya perceraian itu ketika telah memenuhi syarat dan rukunnya. Kedudukan cerai atautalak di bawah tangan menurut Hukum Islam (fiqih Islam) adalah sudah sah dan diakuikeberadaannya, sehingga telah mempunyai akibat-akibat hokum berupa putusnya hubunganperkawinan dan akibat-akibat hokum lainnya. Sedangkan menurut hokum positif di Indonesia,cerai atau talak di bawah tangan tidak dapat pengakuan dan perlindungan oleh hokum besertaakibat-akibatnya dan dianggap belum putus perkawinan tersebut sebab dilakukan tidak sesuaimenurut aturan hukum yang berlaku. Oleh karena itu, sebaiknya masyarakat diberi pemahamanbahwa walaupun sudah sah cerai atau talaknya secara Hukum Islam dalam konteks fiqih, namunakan lebih baik lagi dan bisa menjamin adanya kepastian hukum, cerai atau talaknya yang telahdilakukan seharusnya didaftarkan di Pengadilan agar bisa dicatatkan oleh Negara sebagai
peristiwa perceraian sehingga mendapatkan bukti akta cerai.


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract view : 83 times
PDF - 299 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 YUSTISI

Copyright ¬© 2015. Universitas Ibn Khaldun Bogor. All Rights Reserved. Powered by†OJS.